Kisah dari Coffs Harbour

Indonesia adalah salah satu negara tetangga terdekat Australia. Sebagai dua negara bertetangga, sudah sewajarnya saling menjaga, memperhatikan dan bekerja sama baik dalam segala bidang. Salah satu bidang yang saat ini menjadi program kerja sama kedua negara adalah bidang pendidikan.

chccs

Program kerja sama antara Yayasan Perguruan Kristen Harapan Bali, Indonesia dengan Coffs Harbour Christian Community School (CHCCS) , NSW, Australia ini diawali dengan kunjungan tim Harapan Denpasar ke Australia pada pada bulan Agustus 2011. Sebelum mengadakan kerja sama dengan YPK Harapan khususnya, CHCCS sudah terlebih dahulu menjalin hubungan dengan Panti Asuhan Widhya Asih, salah satu cabang pelayanan GKPB yang juga merupakan penyelenggara YPK Harapan.

Sebagai institusi pendidikan yang sama-sama berlandaskan iman Kristiani, kedua sekolah memiliki visi serupa, yaitu mendidik generasi muda bangsa bukan hanya dari segi akademik dan fisik tetapi juga menunjukkan arah kepada jalan kebenaran. Semua program sekolah yang dicanangkan dimaksudkan untuk membentuk para siswa menjadi pribadi yang utuh, bukan hanya pandai dan berprestasi tetapi juga memiliki kepribadian yang tangguh, kasih kepada sesama dan iman kepada Tuhan.

Tujuan dari program pertukaran guru ini adalah untuk mempererat hubungan antar kedua negara pada umumnya dan khususnya antara sekolah CHCCS Australia dengan sekolah-sekolah yang berada di lingkungan YPK Harapan Bali, Indonesia. Secara spesifik, tujuan-tujuan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. saling mengenal budaya dan cara pandang
  2. saling membantu meningkatkan ketrampilan dalam bidang pengajaran dan pendidikan
  3. saling membantu meningkatkan fasilitas belajar mengajar

Selama berada di CCS, penulis bertugas membantu guru bahasa Indonesia sebagai penutur asli dalam pembelajaran bahasa Indonesia, baik di Junior School yang terletak di kota Coffs Harbour maupun di kampus Senior School yang berlokasi di Bonville.

Untuk mewujudkan tujuan pengenalan budaya, dua hal yang penulis lakukan adalah memperkenalkan berbagai macam budaya Indonesia termasuk masakan-masakan khas Indonesia serta memperhatikan gaya hidup dan interaksi antar warga Negara Australia. Perkenalan akan budaya Indonesia membantu masyarakat Australia untuk lebih memahami kita, sedangkan pemahaman penulis tentang cara hidup masyarakat Australia diharapkan bisa membantu penulis untuk memberi pemahaman yang benar kepada masyarakat kita tentang Australia; dalam hal ini masyarakat yang terlibat dalam lingkungan Perguruan Harapan, yaitu para murid dan pegawai/staff pengajar Harapan.

Salah satu hal yang menarik perhatian penulis adalah program-program pendidikan yang diciptakan yang mengarahkan para siswa untuk peduli pada sesamanya. Rasa hormat dan saling menghargai sangat dipentingkan. Misalnya di dalam kelas, ketika guru sedang memberi pelajaran, tidak ada satu orang murid pun yang berbicara. Hal ini tidak hanya berlaku di Senior School, tapi bahkan juga di Kindergarten (Taman Kanak-Kanak). Sejak dini siswa sudah diajarkan bahwa berbicara dan tidak mendengarkan orang lain yang sedang berbicara adalah tindakan yang sangat tidak terpuji. Hal ini ditekankan terus menerus, setiap kali ada siswa yang coba berbicara ketika guru atau seorang murid lain sedang berbicara. Selama penulis berada di CCS Coffs Harbour, tidak pernah ada siswa yang berkelahi. Piket guru berlaku selama jam istirahat, bukan selama jam pelajaran. Pada jam istirahat, beberapa guru yang piket harus berada di halaman menemani para siswa. Dengan demikian, situasi aman dan nyaman dapat tercipta karena para siswa benar-benar mendapat perhatian dan pengawasan.

Untuk program kepedulian pada orang lain, baik siswa maupun guru, semua terlibat. Ada beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain Run for Membantu, Bali Day, Valentine Day dan Mini Market Day. Pada hari-hari tersebut, siswa mengadakan lomba-lomba antar “House” yaitu kelompok-kelompok yang sudah ditentukan berdasarkan inisial nama keluarga para siswa maupun guru dan pegawai. Selama kegiatan berlangsung, juga disediakan permainan-permainan seru seperti yang biasa kita temukan pada kegiatan pasar raya. Untuk bisa main, siswa harus membayar. Demikian juga untuk camilan, ada banyak jenis makanan dan minuman yang disumbangkan. Juga ada kegiatan yang disebut Mufty Day tiap term, di mana para siswa boleh berpakaian beda (bukan seragam) serta kostum karakter yang ada di buku-buku cerita. Pada hari ini, para siswa membawa sumbangan minimal $1. Hasil penjualan serta semua dana yang berhasil dikumpulkan disumbangkan pada panti asuhan kita, seperti Panti Asuhan di Blimbingsari.

Di dalam kelas, siswa juga selalu diingatkan untuk saling mengasihi dan memperhatikan kawan mereka. Hasilnya misalnya dapat penulis saksikan ketika suatu hari, guru bahasa Indonesia meminta siswa untuk membentuk kelompok. Ada seorang siswa yang sangat pendiam, sehingga rupanya tak seorangpun temannya terpikir untuk memintanya bergabung dengan kelompok mereka. Siswa pendiam tersebut menangis diam-diam. Ketika teman-temannya menyadari hal itu, sebuah kelompok langsung datang mendekatinya dan menghiburnya, mengajaknya untuk bergabung dan meminta dia untuk berhenti menangis. Penulis terharu melihatnya, terutama karena para siswa ini adalah siswa-siswa yang sangat muda, yaitu kelas 4 Junior School. Alangkah indahnya jika hal tersebut juga tercipta di Harapan. Bukan ng-buly, tapi menunjukkan kasih kepada sesama.

Itulah sebagian kecil pengalaman penulis yang dapat penulis bagikan kali ini. Semoga bisa menjadi bahan perenungan kita bersama menuju Harapan yang lebih baik.

Titien Wahyuni

SMPK 1 Harapan

0